Saturday, August 30, 2008

Terpuruknya Sastra Jawa

Oleh Herry Mardianto

TIDAK dapat dipungkiri bahwa keberadaan sastra Jawa sampai saat ini berada pada titik ndrawasi: hidup segan mati tak hendak. Hal ini bukan tanpa alasan karena sudah sejak lama huruf Jawa dilupakan dan tertinggal di emperan toko dipajangkan bersama kalender porno (Arswendo). Semasa hidupnya, Susilomurti (salah seorang pendiri surat kabar Kumandang) meragukan rasa handarbeni terhadap eksistensi sastra Jawa dan berpendapat bahwa sesungguhnya pengertian sastra Jawa masih terbatas pada ukuran-ukuran konvensional; andaran-andaran sebagai (sikap) sastrawan Jawa terhadap karya-karya mereka tidak banyak muncul -bahwa ada segolongan angkatan muda yang mempunyai kebulatan pandangan terhadap karya mereka dan berbuat dengan pembaruan-pembaruan, konkretnya belum ada atau tidak begitu terasa perkembangannya. Mungkinkah ini menjadi ciri perkembangan sastra Jawa yang bertolak dari anggapan wong Jawa ngenggoni semu?

Proses termaginalisasinya sastra Jawa, seperti juga disinyalir Arswendo, terjadi sejak tersapunya tembang macapat oleh teriakan lagu rock atau pop Melayu, bubarnya pengajaran sastra Jawa, dan leburnya bahasa raja dan prajurit dalam satu rasa dalam siaran televisi karena penggunaan bahasa Indonesia, baik dalam kethoprak, wayang kulit, ataupun wayang orang.

Semua ini dapat terjadi dengan adanya desakan nasionalisme yang mengedepankan pandangan bahwa bangsa Indonesia harus mewadah dalam bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Meskipun dalam penjelasan UUD 45 Bab XV pasal 36 bahasa daerah akan dilindungi, dipelihara, dan dihormati; kenyataannya sistem pemerintahan di Indonesia -baik pada masa rezim Orde Lama maupun rezim Orde Baru- lebih diarahkan pada konsep persatuan dan kesatuan yang bermuara pada slogan politis nasionalisme sehingga pada akhirnya upaya perlindungan pemerintah terhadap sastra Jawa yang dijamin oleh undang-undang cenderung terabaikan (diabaikan?).

Untuk mengangkat keterpurukan sastra Jawa, pandemen sastra Jawa mendirikan sanggar-sanggar sastra sebagai wadah kegiatan sastrawan Jawa. Pada tahun 1970-an bermunculan berbagai sanggar sastra Jawa, antara lain Sanggar Nur Praba diprakarsai oleh Nursyahid Poernomo, Sanggar Sastra Sasanamulya (Arswendo Atmowiloto), Grup Diskusi Sastra Blora (Poer Adhie Prawoto), Sanggar Sastra Parikuning (Esmiet), dsb. Sanggar-sanggar tersebut mengadakan kegiatan diskusi untuk memotivasi anggota/peserta agar terus mencipta karya sastra Jawa.

Keterseokan kehidupan sastra Jawa lebih diperburuk oleh pemberlakuan kurikulum 1975 yang menyisihkan pengajaran bahasa (dan sastra) Jawa dari mata pelajaran wajib dengan alasan tidak dianggap penting dan menghambat proses nasionalisme. Ini merupakan kenyataan pahit yang harus diterima bahasa dan sastra Jawa karena sebelumnya pemerintah mengeluarkan kebijakan berlakunya Pedoman Ejaan Bahasa Jawa yang Disempurnakan mulai tanggal 18 Maret 1974. Proses meminggirkan sastra Jawa diperkuat dengan adanya kebijakan Politik Bahasa Nasional (1976) yang secara sistematis memporakporandakan kehidupan sastra daerah (termasuk di dalamnya sastra Jawa).

Dengan demikian sudah sepantasnya jika Yayasan Widita Jawa (YWJ) berinisiatif mengadakan kegiatan Ruwatan Sastra Jawa atau Pandonga Agung Sastra Jawi, Sabtu lalu di Pagelaran Keraton Yogyakarta. Hanya saja jika kegiatan itu lebih dilatarbelakangi keinginan agar generasi muda lebih mengenal sastra Jawa (modern) tentu saja bisa menjadi tanda tanya besar, apa lagi acara tersebut terpusat pada pembacaan mantram oleh Ki Cermo Subarno diiringi musik gamelan klasik garapan Mas Trustha. Dengan agak sembrono saya juteru berpikiran bahwa kegiatan ruwatan tersebut hanya akan melegitimasi bahwa sastra Jawa yang dihasilkan para pujangga keraton.

Selain kegiatan yang sifatnya spiritual tersebut ada baiknya jika YWJ mengadakan kegiatan yang lebih konkret, bertindak sebagai pengayom agar sastra Jawa mengalami pencerahan, tidak jalan di tempat. Siapa tahu peran serta YWJ dapat melahirkan karya sastra Jawa setara dengan karya Dewi Dee Lestari, Supernova, yang memiliki nilai tambah menyisipkan sains dan spiritualitas dalam alur cerita. [kr/200102]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

*) Herry Mardianto, Koordinator Komunitas Sastra Pinggir, Cebongan, Sleman.

Pandangan Hidup Jawa

Aja turu sore kaki,ana dewa nganglang jagad,

nyangking bokor kencanane,Isine donga tetulak

ya iku bagianipun,wong melek sabar narima

Istilah “ Pandangan Hidup Jawa “ di sini mempergunakan pengertian yang longgar, jadi istilah ini dapat saja diganti dengan istilah-istilah lain yang mempunyai arti yang kurang lebih sama, seperti “ Filsafat Jawa “ (Abdulah Ciptoprawiro) “ Filsafah Kejawen “ atau istilah lain lagi. Tetapi pandangan hidup Jawa, ini tidaklah identik dengan “ Aliran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa “ atau “ Islam Abangan “ atau “ Mistik Jawa “ dan lebih-lebih dengan “ ilmu-ilmu klenik “. Sementara itu beberapa istilah lain seperti “ Agama Jawa “atau “ Agama Jawi “ (Koentjaraningrat) “ the religion of jawa “ (Clifford Geertz) dan lain-lain, itu tidak identik dengan “ Pandangan Hidup Jawa “ sekalipun terlihat adanya beberapa segi persamaan.

Pandangan hidup Jawa bukanlah suatu agama, tetapi suatu pandangan hidup dalam arti yang luas, yang meliputi pandangan terhadap Tuhan dan alam semesta ciptaanNYA beserta posisi dan peranan manusia di dalamnya. Ini meliputi pula pandangan terhadap segala aspek kehidupan manusia, termasuk pula pandangan terhadap kebudayaan manusia beserta agama-agama yang ada.

Dengan meminjam istilah Bung Karno dalam pidato lahirnya Pancasila, pandangan hidup di sini adalah sama dengan Weltanschauung, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989 : 1010) diberi arti sebagai “Sikap terhadap kebudayaan, dunia dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya, serta semangat dan pandangan hidup terdapat pada zaman tertentu”. Jadi selain jelas bahwa pandangan hidup Jawa itu bukan suatu agama, jelas pula bahwa ia pun tidak identik dengan “regiositas Jawa”, karena cakupan pengertiannya lebih luas dari pada itu.

Berbeda dengan pendapat sementara pakar yang menyimpulkan bahwa ciri karakteristik regiositas Jawa dan pandangan hidup Jawa bukanlah sinkretisme tetapi suatu semangat yang saya beri nama tantularisme. Saya namakan demikian karena semangat ini bertumpu pada atau memancar dari ajaran Empu Tantular lewat kalimat kakawin Sutasoma :

Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa, bermacam-macam sebutannya, tetapi Tuhan itu satu-tidak ada kebenaran yang mendua. Kalimat Empu Tantular ini jelas tidak hanya menekankan prinsip dan keyakinan tentang Keesaan Tuhan tetapi juga keesaan kebenaran! Disitulah letak semangat tantularisme yang merupakan inti pandangan hidup Jawa. Semangat semacam ini menjiwai dan menyemangati tidak hanya religiositas Jawa saja tetapi juga semua unsur dan aspek kebudayaan Jawa. Sifat karakteristik budaya Jawa yang religius, non doktriner, toleran, akomodatif dan optimistik itu terbentuk secara kokoh diatas fondasi tantularisme ini.

Budaya Jawa dan pandangan hidup Jawa memang telah dan akan selalu mengalami perubahan dan pergeseran sesuai dengan perkembangan jaman. Tetapi sejarah telah membuktikan bahwa perubahan-perubahan itu selama tidak sampai mencabut pandangan hidup Jawa dari akar dan sumber kekuatannya, yaitu tantularisme, yang adalah juga merupakan kristalisai dari proses sejarah yang amat panjang. Disinilah letak kekuatan budaya Jawa yang harus tetap dipertahankan dengan sadar. Semangat tantularisme yang merupakan sumber kekuatan Jawa itu sebenarnya bukan hanya cocok untuk orang Jawa. Ia bersifat universal. Oleh karena itu tantularisme juga merupakan sumbangan yang sebenarnya amat diperlukan oleh umat manusia sekarang ini

Permusuhan dan perang antar etnik; persaingan, kebencian dan kecemburuan antar pemeluk agama yang telah mengorbankan beribu-ribu nyawa manusia yang senantiasa terjadi sampai sekarang ini, semuanya akan dapat diredam oleh semangat tantularisme yang damai, sejuk dan bernafaskan asih ing sasami. Tantularisme memancarkan cinta kasih kepada sesama, yang juga diajarkan oleh semua agama yang dipeluk oleh orang-orang yang membenci itu! Islam, Kristen, Hindu, Budha, Sikh, dan lain-lain, semuanya mengajarkan cinta kasih kepada sesama; ironisnya sementara ini banyak pemeluknya saling membenci dan bermusuhan! Atas nama agama ?????????

SINKRETISME JAWA

Seperti telah disinggung di muka, kebanyakan pakar dan pengamat budaya Jawa berpendapat bahwa ciri karakteristik pandangan Jawa adalah sinkretisme. Namun cukup banyak pula pengamat yang tajam penglihatannya, meragukan kesimpulan semacam itu.

Pengamatan yang tajam akan dapat melihat bahwa kecenderungan yang paling menonjol dalam budaya Jawa bukanlah kecenderungan sinkretik yang berupa kecenderungan atau semangat untuk membangun suatu sistem kepercayaan ( termasuk agama ) baru dengan menggabungkan unsur-unsur yang berasal dari sistem-sistem kepercayaan yang telah ada.

Para pengamat yang menyangkal sinkretisme sebagai ciri karektistik pandangan Jawa itu, mencoba mencari istilah-istilah lain yang dianggap lebih tepat, seperti istilah mosaik (Abdulah Ciptoprawiro), coalition (Gonda) atau sekedar “ Percampuran “ atau Vermenging (Kern) istilah-istilah lain lagi yang juga dipakai oleh sementara pakar sebagai pengganti istilah “ sinkretisme “ adalah amalgamtion, blending, fusi atau fusion (peleburan) dan lain-lain.

Memang dalam pengamatan sinkretisme bukanlah ciri karaktistik pandangan Jawa, gejala sinkretisme dapat kita temui dimana-mana. Juga dalam berbagai agama yang kita kenal sekarang ini, bahkan dalam A Distionary Of Comparative Religion dinyatakan bahwa hanya sedikit saja agama yang benar-benar bebas dari sinkretisme. Di kalangan masyarakata Jawa, kecenderungan sinkretisme memang ada kecenderungan itu cukup besar, tetapi adalah tidak benar kalau disimpulkan bahwa sinkretisme adalah merupakan ciri karaktistik pandangan hidup Jawa, yang betul-betul merupakan ciri karaktistik menurut penghayatan saya adalah semangat tantularisme itu.

Istilah “ tantulisme “ ini masih baru dan tentunya masih asing bagi para pakar budaya Jawa. Sekalipun istilahnya baru, tetapi sebenarnya tuntalisme adalah semangat yang sudah sejak jaman dahulu tumbuh subur dikalangan masyarakat Jawa. Berbagai istilah alternatif terhadap sinkretisme tersebut bisa dipersepsikan semangat yang terdapat di dalam dan merupakan ciri karetistik pandangan Jawa.Istilah-istilah tersebut terkesan hanya menunjuk pada bentuk dan proses yang terjadi, bukan pada semangat. Istililah-istilah tersebut juga tidak mampu menunjuk secara tegas perbedaan yang mendasar dengan sinkretisme.

Prof. J.H.C Kern telah menuangkan pendapatnya melalui karangannya “ Over de Vermenging Van Civaisme en Buddhisme op Java, Naar aanleiding van het Oudjavaasch gedicht Sutasoma “ hanya terpukau pada proses percampuran atau vermenging antar dua agama yang menjadi obyek penelitiannya, yaitu Civaisme (Hindu) dan Buddhisme.

Kebudayaan Jawa sebagai subkultur Kebudayaan Nasional Indonesia, telah mengakar bertahun-tahun menjadi Pandangan Hidup dan Sikap Hidup orang Jawa. Sikap hidup masyarakat Jawa, memiliki identitas dan karakter yang menonjol yang dilandasi dengan nasehat-nasehat nenek moyang sampai turun temurun, hormat kepada sesama serta berbagai perlambang dalam ungkapan Jawa, menjadi jiwa seni dan budaya Jawa.

Dalam ungkapan " Crah Agawe Bubrah - Rukun Agawe Santosa " menghendaki keserasian dan keselarasan dengan pola pikir hidup saling menghormati. Perlambang dan ungkapan-ungkapan halus yang mengandung pendidikan moral, banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari misalnya :

1. Aja Dumeh = Marasa dirinya lebih

2. Mulat Sarira, Hangrasa Wani = Mawas diri, instropeksi diri

3. Mikul duwur, mendem jero = Menghargai dan menghormati serta menyimpan rahasia orang lain

4. Ajining diri saka obahing lati = Harga diri tergantung ucapnya

Prinsip pengendalian diri dengan " Mulat Sarisa " suatu sikap bijaksana untuk selalu berusaha tidak menyakiti perasaan orang lain, serta " Aja Dumeh " adalah peringatan kepada kita bahwa jangan takabur dan jangan sombong, tidak mementingkan diri sendiri dan lain sebagainya yang masih mempunyai arti yang sangat luas.

Kepercayaan terhadap roh nenek moyang, menyatu dengan kepercayaan terhadap kekuatan alam yang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan manusia, menjadi ciri utama bahkan memberi warna khusus dalam kehidupan religiusitas serta adat istiadat masyarakat Jawa. Yaitu : Sinkretisme, Tantularisme dan Kejawen yang bersifat Toleran, Akomodatif serta Optimistik.

Berbagai perlambang dan ungkapan Jawa, merupakan cara penyampaian terselubung yang bermakna " Piwulang " atau pendidikan moral, karena adanya pertalian budi pekerti dengan kehidupan spiritual, menjadi petunjuk jalan dan arah terhadap kehidupan sejati. Terkemas hampir sempurna dalam seni budaya gamelan dan gending-gending serta kesenian wayang kulit purwa yang perkembanganya mempunyai warna yang unik, yaitu dari akar yang kuat, berpegang pada kepercayaan terhadap roh nenek moyang, kemudian bertambah maju setelah mengenal serta menggabungkan segala bentuk kesenian dari India dan dan kesenian asli Jawa serta menjadi sempurna dengan menambahkan ajaran Islami di pulau Jawa.

Paham mistik yang berpokok " Manunggaling Kawula Gusti " (persatuan manusia dengan Tuhan) dan " Sangkan Paraning Dumadi " (asal dan tujuan ciptaan bersumber pada pengalaman religius. Berawal dari sana, manusia rindu untuk bersatu dengan yang Illahi, ingin menelusuri arus kehidupan sampai ke sumber dan muaranya. Perumusan pengalaman religius Jawa dalam sejarahnya tidak lepas dari pengaruh agama-agama besar seperti Hindu, Budha dan Islam beserta dengan mistiknya yang khas, seperti terlihat dalam kitab-kitab Tutur, Kidung dan Suluk.

http://www.jawapalace.org

nino@jawapalace.org

Friday, August 1, 2008

The Incredible HULK


Jenis Film
ACTION/THRILLER
Pemain
EDWARD NORTON, LIV TYLER, TIM ROTH, WILLIAM HURT
Sutradara
LOUIS LETERRIER
Penulis
EDWARD NORTON, ZAK PENN
Produser
AVI ARAD, GALE ANNE HURD, KEVIN FEIGE
Produksi
PARAMOUNT PICTURES (21cineplex.com)

SINOPSIS

The Incredible Hulk hadir kembali – kisah kepahlawanan yang penuh aksi dari salah satu pahlawan super terkenal sepanjang masa. Berawal saat ilmuwan Bruce Banner (Edward Norton), putus asa ingin menemukan obat bagi radiasi gamma yang meracuni sel-selnya dan menguasai kekuatan dari dalam dirinya: The Hulk Hidup dalam bayang-bayang – menghilang dari kehidupan yang ia kenal dan kekasihnya, Betty Ross (Lic Tyler) – Banner berusaha menghindar dari pengejaran General Thunderbolt Ross (William Hurt), dan pasukan militer yang berusaha menangkap dan mengekploitasi kekuatannya secara brutal

Link to download :

10 anonymized URLs - Anonymity.com (this is auto-generated)
http://rapidshare.com/files/122887080/TIH-2008-XviD-English.part1.rar
http://rapidshare.com/files/122894430/TIH-2008-XviD-English.part2.rar
http://rapidshare.com/files/122900648/TIH-2008-XviD-English.part3.rar
http://rapidshare.com/files/122908349/TIH-2008-XviD-English.part4.rar
http://rapidshare.com/files/122914730/TIH-2008-XviD-English.part5.rar
http://rapidshare.com/files/122921618/TIH-2008-XviD-English.part4.rar
http://rapidshare.com/files/122928019/TIH-2008-XviD-English.part5.rar
http://rapidshare.com/files/122934542/TIH-2008-XviD-English.part6.rar
http://rapidshare.com/files/122940580/TIH-2008-XviD-English.part7.rar
http://rapidshare.com/files/122942400/TIH-2008-XviD-English.part8.rar

Batman The Dark Knight

Jenis Film
- Action
Pemain
- Christian Bale, Gary Oldman, Aaron Eckhart,
Heath Ledger, Maggie Gyllenhaal
Sutradara
- Christopher Nolan
Penulis
- Christopher Nolan
Produser
- Christopher Nolan, Jonathan Nolan
Produksi
- Warner Bros. Pictures
Homepage
- http://thedarkknight.warnerbros.com/
Trailer
- http://thedarkknight.warnerbros.com/


Sinopsis

Dengan pertolongan Letnan Jim Gordon (Gary Oldman) dan Jaksa Harvey Dent (Aaron Eckhart), Batman merancang startegi untuk menghancurkan kejahatan berencana di Gotham untuk selamanya.

Kerjasama tiga serangkai tersebut terbukti efektif, namun mereka mengetahui bahwa mereka adalah sasaran seorang dalang kejahatan yang dikenal sebagai Joker (Heath Ledger), yang mendorong Gotham ke dalam anarki dan memaksa Ksatria Gelap (The Dark Knight) berada di batas antara sebagai seorang pahlawan dan seorang penjaga keamanan.


Link to download :Password: fcukingchav

8 anonymized URLs - Anonymity.com (this is auto-generated)
http://rapidshare.com/files/133490845/Batman_The_Dark_Knight.part1.rar
http://rapidshare.com/files/133490777/Batman_The_Dark_Knight.part2.rar
http://rapidshare.com/files/133490789/Batman_The_Dark_Knight.part3.rar
http://rapidshare.com/files/133490875/Batman_The_Dark_Knight.part4.rar
http://rapidshare.com/files/133490831/Batman_The_Dark_Knight.part5.rar
http://rapidshare.com/files/133490867/Batman_The_Dark_Knight.part6.rar
http://rapidshare.com/files/133490832/Batman_The_Dark_Knight.part7.rar
http://rapidshare.com/files/133481328/Batman_The_Dark_Knight.part8.rar