Monday, August 31, 2009

PEREMPUAN DAN PASAR

Oleh : Rohadi Budi Widyatmoko

Pasar, itulah kata-kata yang identik dengan kegiatan kaum perempuan. Berbagai kegiatan yang menyangkut perempuan ada di situ. Ada jual beli, tawar menawar, bahkan pembicaraan dari hal-hal kecil atau gossip hingga pembicaraan yang ruwet. Perempuan adalah pelaku perputaran (siklus) perekonomian dalam pasar tradisional. Memang, untuk sekarang ini pasar-pasar tradisional terutama di kota besar hampir punah, diganti dengan pasar modern yang lebih menawarkan beragam fasilitas yang serba mewah.
Perempuan-perempuan jawa banyak yang bekerja dalam sektor pasar tradisional. Perempuan Jawa sejak dulu dikenal sangat pintar melakukan perdagangan. Selain itu mereka tidak terlalu memikirkan laba yang akan diperoleh tetapi kekeluargaan yang diutamakan. Ada pepatah Jawa mengatakan bahwa tuna satak bathi sanak, itu yang selalu menjadi prinsip atau yang dipegang oleh orang Jawa. Artinya, mereka rela rugi dalam bentuk materi tetapi mereka akan merasa lebih diuntungkan jika mempunyai banyak keluarga (saudara). Itulah keunikan masyarakat Jawa. Dari kacamata mereka, materi itu hanya sebagai titipan dan sudah diatur oleh Tuhan. Mereka tidak terlalu pusing untuk memikirkan itu.
Pasar tradisional mengajarkan kita akan kodrat perdagangan. Ada penjual dan ada pembeli. Ada harga yang disepakati oleh kedua belah pihak. Coba kita lihat pasar modern, swalayan misalnya kita tinggal memilih barang yang kita inginkan tidak perlu ada tawar menawar soal harga, setuju atau tidak setuju itulah harga yang mereka berikan kepada pembeli. Hal itu berbeda dengan konsep masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi etika dalam kegiatan ekonomi, apalagi bagi kaum perempuan itu sangat diperlukan.
Pada saat ini tampak ada gerakan bahwa pasar modern sebagai kiblat gaya hidup (prestise), terutama bagi kaum perempuan. Mereka akan pergi ke pasar swalayan atau mall bukan hanya sekedar berbelanja, tetapi juga untuk pamer diri, mencuci mata, dan refresing. Memang, pasar modern menawarkan konsep-konsep gayan hidup modern yang menggoda. Dari segi arsitektur, fasilitas, barang dagangan. letak yang strategis, dan pelayan toko yang enak dipandang mata., membuat pengunjung dan pembeli terpikat Berbeda dengan pasar tradisional, tempatnya biasanya kumuh, berdesak-desakan, fasilitas kurang memadai.
Pasar dan perempuan adalah satu kesatuan. Bagi perempuan, pasar merupakan tempat yang membantu kelangsungan hidup keluarga. Berbagai kebutuhan primer dan sekunder akan terpenuhi oleh pasar. Perempuan-perempuan Jawa menganggap pasar sebagai tempat belajar dan menikmati hidup. Aktivitas di pasar adalah cerminan keteguhan kaum perempuan untuk hidup. Mereka akan melakukan transaksi tawar menawar dengan keakraban seperti saudara sendiri, tentunya ada percakapan kecil atau pertanyaan sekitar identitas, kabar keluarga, alamat, pekerjaan, dan lain-lain. Suasana akan menjadi cair akhirnya ada kepuasan tersendiri antara penjual dengan pembeli. Ada Prinsip-prinsip ekonomi yang diterapkan di dalam hidup kaum perempuan, walaupun tidak sepenuhnya dilaksanakan dengan baik.