Tuesday, January 19, 2010

Guyonan Jawa




Saturday, January 16, 2010

HEWAN CERMINAN MANUSIA

Sejarah manusia sering terekam dalam folklor, mitologi, dongeng, hikayat, cerita rakyat, legenda, fabel, dan lain-lain. Cerita dengan mengambil tokoh-tokoh hewan sebenarnya digunakan untuk menceritakan manusia. Nusantara ini memiliki banyak cerita tentang sejarah, asal-usul tempat, politik, maupun upacara tradisi yang bersumber dari cerita bertokoh hewan-hewan. Buaya, kera, anjing, burung, kuda, gajah, harimau, kancil, babi, kambing, semut, ular, dan yang lain-lain merupakan tokoh-tokoh terkenal yang kita tahu dari dongeng orangtua, buku, maupun film.

Hewan dalam cerita dimaksudkan menggambarkan sifat-sifat manusia. Mungkin saja, tokoh hewan dipilih agar tidak terlalu menyinggung perasaan. Bisa juga, tokoh-tokoh hewan dipilih karena mencerminkan kritik yang tidak begitu membahayakan, jika terpaksa berhadapan dengan kekuasaan dan hukum. Masyarakat zaman dulu sudah pintar dan kaya imajinasi, sehingga mampu merangkai cerita sebagai cerminan hidup. Artinya, pemilihan tokoh-tokoh hewan dalam cerita juga menunjukkan kedekatan dengan alam, sekaligus kepekaan mengetahui naluri manusia, yang kadang-kadang memiliki kemiripan seperti naluri hewan.
Hewan-hewan yang diceritakan biasanya mewakili kekuatan yang baik dan yang jahat. Hikmah dari cerita hewan ditujukan membuat manusia memilih sikap, agar tidak terjerumus dalam limbah kejahatan mapupun kesesatan. Cerita hewan juga mengandung ajaran etika, pembelajaran sejarah, dan hiburan yang membuat masyarakat mau untuk menceritakannya berulang-ulang, kemudian diwariskan secara turun-temurun. Hewan dijadikan cerminan bagi manusia. Sifat-sifat yang dimiliki hewan bisa saja dimiliki juga oleh manusia. Sifat jahat atau kejam dari manusia kadang melebihi kebuasan hewan. Hikmah dalam gambaran sifat-sifat dan perilaku itulah yang membuat cerita hewan terus dinikmati oleh masyarakat sampai sekarang.
Nama-nama dan sifat-sifat hewan terkadang dipakai oleh kita dalam peribahasa atau mengumpat. Anehnya, kita tidak ragu-ragu mengambil nama hewan untuk kepentingan yang mungkin saja semakin memburukkan citra hewan. Nama-nama hewan tertentu sering muncul dalam peribahasa. Contohnya, biarlah anjing menggonggong, tapi kafilah tetap berlalu. Nama-nama hewan dalam masyarakat Jawa juga sering dipakai untuk ekpresi marah, mengumpat. Contohnya, anjing, babi, jangkrik, dan lain-lain. anehnya, nama-nama hewan terkadang digunakan juga untuk nama panggilan, entah untuk menjelek-jelekkan atau hanya sensasi.
Cerita-cerita hewan terdapat dalam banyak peradaban. Di Barat, cerita hewan juga memiliki kedudukan penting, seperti terungkapkan dalam mitologi-mitologi Yunani. Hewan dijadikan sumber pembelajaran yang berharga, yang ditafsirkan terus-menerus untuk menemukan relevansi dengan zamannya. Cerita hewan jarang dilupakan, sebab dekat dengan realitas sehari-hari. Hal demikian mempengaruhi masyarakat Barat juga memunculkan tafsir-tafsir rasional, tidak hanya fantasi dan imajinasi, agar memiliki hikmah yang mencerdaskan sekaligus menghibur.
Pemanfaatan karakter hewan dalam sastra mendapat perhatian besar dalam novel terkenal, Animal Farm, karya George Orwell. Novel terbaik Orwell ini menceritakan kebrengsekan, kelicikan, keserakahan, kesombongan, dan kekejaman manusia dalam meraih kekuasaan dan kekayaan. Animal Farm merupakan bentuk modern dari cerita rakyat, sebab mencerminkan kondisi zaman modern pada abad ke-20 yang diwarnai dengan perang dan dekandensi moral manusia. Orwell memotret itu semua dalam bentuk novel yang kritis, penuh satir, dan menuntut kita untuk sadar diri. Dunia binatang dijadikan cerminan yang pasa untuk merekam situasi zaman, yang membutuhkan imajinasi dan kecerdasan tak sembarangan.
Konon, naskah Animal Farm itu sering ditolak oleh banyak penerbit. Akhirnya, ada sebuah penerbit mau menerbitkan naskah tersebut, tetapi digolongkan sebagai cerita dongeng, bukan novel. Masyarakat Eropa membacanya, kemudian tersentak, ternyata Animal Farm merupakan novel jenius tentang gambaran dunia Eropa. Orwell berhasil mengungkapkan ejekan-ejekan halus dan tajam pada sistem pemerintahan totaliter di Eropa. Masyarakat disadarkan oleh novel tersebut, yang sering dikatakan sebagai buku satir modern. Orwell sudah membuktikan, cerita hewan pada zaman modern masih laku, dan tetap memiliki relevansi dengan banyak masalah kehidupan kita.
Usaha keras juga ditunjukkan oleh James Finn Garner, seorang penulis dan pemain teater dari Amerika. Ia menulis ulang dan memplesetkan dongeng-dongeng lama, sebagian mengisahkan tentang dunia hewan, dalam buku Politiccally Correct Bedtime Stories. Buku dongeng modern yang penuh plesetan tersebut mencerminkan keinginan pengarang untuk memberi tafsiran ulang, serta memunculkan makna baru.
Dalam cerita Tiga Babi Kecil, diceritakan tentang cara pertahanan diri babi dari ancaman keserakahan serigala. Tiga babi membangun rumah dengan bahan-bahan berbeda, ada yang memakai jerami, ranting, dan batu bata. Suatu hari serigala muncul ingin memangsa dan menggusur masyarakat babi. Tempat tinggal babi ingin dijadikan kompleks perumahan, perkebunan, dan pusat ekonomi oleh kaum serigala. Tiga babi bertahan, meski rumah dengan bahan jerami dan ranting dapat dihancurkan serigala. Mereka selamat dalam rumah tembok lalu membuat surat protes ke Perserikatan Bangsa-Bangsa agar mereka dilindungi dan diberikan hak hidup tanpa ancaman. Usaha itu berhasil, ditambahi juga kematian serigala karena serangan jantung ketika hendak ngotot menggusur perkampungan babi.
Cerita tersebut dekat dengan realitas zaman modern yang banyak konflik dan perang. Negara kita juga sedang memiliki cerita hewan, cicak lawan budaya. Cerita ini telah membuat kita kecewa dan prihatin, sebab cerita ini bersumber dari fakta, hukum di negara ini telah rapuh dan pejabat negara tak mungkin dipercayai lagi. Cicak yang dianggap kecil mendapat sokongan dari banyak pihak, sehingga tidak mau menyerah pada buaya. Cerita hewan ini belum berakhir, saat masyarakat sudah mulai ragu dan putus asa. Ingat, ini kenyataan, bukan novel tentang hewan, tapi kasus hukum yang kontroversial!

ARTI KEBAYA


Kebaya ternyata membuat seorang mahasiswa dari UNSIQ Wonosobo merasa prihatin. Cobalah simak kembali Surat Pembaca (Suara Merdeka, 11/11/2009) yang memuat tulisan Nining Fadhilah berjudul Kebaya, Luntur Terkikis Zaman. Kita boleh mengapresiasi dengan banyak pendapat mengenai surat tersebut, meskipun dapat terjadi beda atau pertentangan pendapat. Pada dasarnya, saya salut dengan bentuk keprihatinan Nining Fadhilah, akan tetapi beberapa uraiannya masih menunjukkan kalau masalah kebaya belum begitu dikuasai, baik dalam sisi sejarah dan perkembangan nilai-nilainya.
Kesimpulan yang diambil penulis juga kurang objektif. Kalau kita menyimak kembali akan terasa ada keprihatinan yang berlebihan, “Kebaya tidak mempunyai tempat lagi di hati mereka dan kita bisa bayangkan sepuluh tahun yang akan datang, apakah budaya ini masih dilestarikan oleh orang Jawa itu sendiri? Sedangkan sekarang kebaya hanya dipakai oleh warga keraton dan orang tua, nenek-nenek (orang peninggalan dulu yang masih hidup) saja. Mungkin masih ada orang Jawa yang menggunakannya, namun itu hanya beberapa persen dari seluruh penduduk Jawa.”
Uraian yang tidak lengkap dan kesimpulan inilah yang membuat saya ingin memberi komentar tambahan dan sedikit kritik. Konon, kebaya berasal dari Cina, kemudian menyebar ke Nusantara di daerah Jawa, Bali, Sumatera, dan lain-lain. Belum ada bukti kuat untuk versi ini, tetapi banyak pihak mengakui banyak kebenarannya. Melalui proses akulturasi yang lama, akhirnya kebaya diakui sebagai pakaian khas di beberapa daerah tertentu. Jadi, sebenarnya kebaya tidak selalu identik dengan Jawa, seperti yang dimaksudkan oleh Nining Fadhilah. Hanya saja, kebaya memiliki ciri-ciri Jawa setelah ada proses penerimaan dan pengembangan sesuai adat setempat.
Pakaian menunjukkan identitas dan budaya. Kebaya dalam waktu yang lama, dengan sendirinya menjadi bagian penting dari tradisi pakaian bagi perempuan Jawa. Perempuan berkebaya dianggap memiliki rasa etnis, meskipun jenis kebaya tertentu malah membuat kaum perempuan terbagi dalam perbedaan strata sosial. Pakaian, menurut para ahli, selalu mengandung nilai-nilai ideologis, yang berdampak pada posisi sosial, pandangan politik, serta harga diri. Nilai-nilai seperti itulah yang menyebabkan perkembangan kebaya tergantung juga dengan situasi politik, juga perubahan sosial budaya yang terjadi di masyarakat. Pengaruh dari penjajah Belanda, Cina, Arab, dan keraton di Jawa ikut pula menentukan nilai kebaya bagi perempuan di mata masyarakat.
Dalam sejarah, kebaya merupakan pakaian khas yang hanya boleh dikenakan oleh kaum perempuan dari kalangan keraton. Kemudian pada masa penjajahan, para perempuan Belanda dan Eropa juga mengenakan kebaya dengan beberapa modifikasi. Kebaya pada masa itu berarti meunjukkan stratifikasi sosial, yang membuat masyarakat menilainya seperti pakain resmi atau khusus. Dalam perkembangannya, para perempuan Belanda pada abad ke-19 terbiasa memakai kebaya ketika hidup di wilayah Nusantara, khususnya di Pulau Jawa.
Barangkali pengetahuan sejarah ini agak diabaikan oleh Nining Fadhilah yang menyebutkan, “Kebaya merupakan pakaian adat Jawa Tengah yang dulunya sangat mempunyai nilai budaya yang kental akan orang Jawa, yang identik dengan lemah lembut, ramah, dan menjunjung tinggi budaya.” Kekurangpahaman ini dapat menyebabkan kekeliruan dalam memaknai kebaya pada diri perempuan pada masa lalu dan masa sekarang. Sejarah kebaya sebagai jenis pakaian perempuan mestinya diketahui dengan baik, untuk mengantisipasi tidak terjebak dalam pandangan yang salah, juga dapat memberi argumentasi yang kuat ketika perempuan tersudutkan gara-gara masalah kebaya.
Sejarah tersebut membuktikan, kebaya mengandung banyak nilai, yang ditentukan oleh si pemakai, norma sosial, dan situasi politik. Jika semula kebaya hanya boleh dipakai oleh kalangan atas, mulai masa pergerakan kebangsaan, kaum perempuan dari masyarakat umum ikut pula mengenakan kebaya. Kadang kebaya dijadikan ciri etnis. Selain itu, dalam lapangan politik, kebaya menunjukkan citra perempuan bumipetra yang harus menghadapi fakta-fakta perubahan antara nilai-nilai tradisional dan modern. Maka, dalam masa selanjutnya ada pemahaman bahwa perempuan yang memakai kebaya dianggap menghargai tradisi sendiri dan tidak terpengaruh oleh westernisasi.
Kebaya dalam perkembangan mode pakaian mutakhir, memang terkesan ketinggalan zama. Pandangan umum ini sering membuat kaum perempuan enggan mengenakan kebaya, kecuali dalam acara-acara resmi. Banyak perempuan sudah mulai meninggalkan kebaya sebagai pakaian sehari-hari dengan banyak pertimbangan. Kebaya baru jadi pemandangan umum, jika ada peringatan Hari Kartini, atau acara-acara adat, juga acara-acara yang bersifat kenegaraan. Cara pandang yang berubah ini tidak berarti bahwa kebaya hanya jadi urusan masyarakat Jawa, sebab banyak perempuan dari etnis lain juga memiliki hak untuk mengenakan kebaya sebagai salah satu ciri kehidupan tradisi mereka.
Pandangan yang menyudutkan juga sering muncul, bahwa perempuan yang berkebaya dianggap kolot atau tradisionalis, tidak paham nilai-nilai modern. Pandangan ini menempatkan perempuan sebagai pihak yang dilemahkan, karena kebaya sudah dipahami sebagai media cerminan identitas, ideologi, status sosial, dan ekonomi. Keprihatinan Nining Fadhilah mungkin tepat dalam konteks ini, jika melihat bahwa ada perubahan nilai dalam kebaya. Kaum perempuan sendiri juga ikut menentukan nilai kebaya, sebab mereka dihadapakan pada pilihan yang sering rancu, dalam memberi arti pada diri sendiri ketika mengenakan kebaya.
Perempuan dan kebaya memang mengisi sejarah panjang Nusantara, yang selalu dinamis dalam model maupun kandungan nilai. Oleh sebab itu, kesadaran kita terhadap pakaian juga harus menyertakan analisis kritis dan dijadikan sebagai medium untuk menyuarakan kepentingan kaum perempuan. Jika tidak ada kesadaran mengenai kebaya atau jenis-jenis pakaian yang lain, maka kaum perempuan bisa dipinggirkan, disudutkan, serta mengalami diskriminasi. Keprihatinan terhadap kebaya boleh saja, tetapi harus disadari bahwa ada motivasi untuk menempatkan masalah sesuai konteks, juga harus ada keberanian untuk memberikan kritik yang membuat kaum perempuan sadar dengan identitas dan nilai-nilai budaya.

Friday, January 15, 2010

Cerita dan cerita...

aku...
yang bukan siapa-siapa...
belum bisa memberikan apa-apa...
banyak membuang waktu dengan sia-sia...

mimpi dan mimpi...
menjadi acuan...
yang selalu terlintas...
dan tak berujung...

persahabatan...
percintaan...
menjadi sebuah bumerang...

berdoa...
perjuangan...
pengorbanan...
sudah menjadi kewajiban...

Bismilahirohmanirokhim...
terus menerus...
itu dan itu..
ini dan ini...
dia dan dia...
ingin kuraih semua...
melalui petunjuk-Mu Ya Allah...

tetap selalu bersyukur...
Alhamdulillah...