Oleh : Rohadi Budi Widyatmoko
Belum hilang rasanya ketika berbagai media masa masih menyiarkan hasil pemilihan calon legislatif yang masih kental dengan kontroversi. Ada lagi berita yang mengejutkan dari Jakarta tentang pembunuhan direktur Putra Rajawali Banjaran.
”Wis ketemu sing mateni Nasrudin” ungkap mbok ginem mengawali pembicaraan.
‘Apa iya to mbok, lha wong sing mateni kuwi diindikasi wong sing terlatih lan berduit alias wong ora baen-baen” jawab lik karto sambil memesan kopi jahe kesukaannya..
“Dikandhani kok malah maido, galo gon tipi wis gencar pemberitaane’
“sapa kuwi ketua KPK”
“Antasari Ashar” saut lik karto.
“malah jare terlibat, dadi otake pembunuhan” jawab mbok ginem.
“lha alesane opo mbok?” Tanya lik karto serius sampai tidak jadi nyruput kopi jahenya.
“walah…..biasa wae jane masalahe, pada cah-cah enom saiki” jawab mbok ginem.
“wong wedok” timpal lik karto
“masak masalahe mung wong wedok thok to mbok kok mung sepele men. Aja-aja ada udang dibalik batu”.
“jarene yo ngono, apa kuwi jeneng kerene” jawab mbok ginem sambil mengaduk teh anget buat pelanggannya yang baru datang.
“konspirasi politik?” jawab lik karto
“ya kuwi sing tak maksud. Coba nalaren mosok mung masalah wong wedok wae direwangi nganti merjaya kancane nganthi tekane pati. Kaya ra eneng wong wedok liya. Ya po ra?”
“wah.. aku dhewe ya ra mudeng mbok, jane ki cah lanang rak kari milih po nuding. Apa meneh dheweke sugih, dadi pejabat Negara sisan” jawab lik karto sambil nyruput kopi jahenya.
“isoh wae to mbok wong wedok kuwi mung digawe tameng, supaya Antasari oleh masalah lan lorot saka jabatane”.
“ ya, isoh wae. pancen penguasa kuwi ora isoh adoh saka wong wedok, lhak yo wis pada mudeng to harta, tahta lan wanita kuwi dadi siji alias sak paket lan kuwi dadi idam-idamane wong urip. Po meneh wong wedok jaman saiki ora pengin rekasa, pengin urip kepenak, ora usah kerja tengak-tenguk nemu gethuk mung modal ba…..
“wah…jo saru to mbok” timpal lik karto
“saru piye to, maksudku ki mung modal bathuk ayu ki lho” sanggah mbok ginem sambil tersenyum.
“Tak kira liyane” jawab lik karto sambil tertawa lebar.
“ dadi wong urip ki ojo neka-neka, sapa nandur ki bakal ngundhuh perlu dieling-eling kuwi. Pancen godhane wong urip kuwi akeh terutama wong wedok kuwi dadi cobane urip sing abot, dadi yo aja ketlincut. Nafsu kuwi aja diumbar kudu dipeper. Ati lan pikiran kudu mlaku sesandingan. Nak nafsu diumbar ora eneng enteke, pingine kurang wae. Coba wacanen karyane Mangkunegara IV po karyane Paku Buwana IV kae, Serat Wedhatama karo serat Wulangreh. Lhak neng kana wis dijlentrehake kabeh. Wedhatama kuwi isine ajaran-ajaran tentang kebaikan, wong urip kuwi kudu duwe etika lan norma men ora keseret sing jenenge nafsu angkara. Lha nak wulangreh kuwi isine babagan ajaran-ajaran kanggo wong urip. Lhak wis jelas to nafsu angkara kuwi dadi mungsuhe manungsa sing paling utama”. ceramah mbok ginem.
”Wah...aku sarujuk kuwi mbok” jawab Lik karto sambil mengisap rokok lan nyruput kopi jahene.
Terima kasih atas kunjungannya di Blog yang sederhana ini... salam sukses selalu dan semoga bermanfaat...
Monday, August 31, 2009
PEREMPUAN DAN KEKUASAAN
Oleh : Rohadi Budi Widyatmoko
Sejak berabad-abad yang lalu kaum perempuan menjadi polemik yang berkepanjangan. Kaum perempuan selalu menjadi pembicaraan yang menarik bagi kaum intelektual, kaum politikus, atau para sastrawan. Kaum perempuan sebenarnya menjadi sebuah simbol untuk kemajuan ideologi pemikiran. Efek-efek negatif maupun positif selalu melekat pada diri kaum perempuan. Kaum intelektual memberikan dan menciptakan teori atau faham-faham dan opini tentang kodrati para perempuan. Bagi para sastrawan, perempuan dijadikan menjadikan sumber inspirasi yang menakjubkan. Kaum politikus memitoskan kaum perempuan untuk memperkuat kedudukan harta dan tahta.
Perempuan adalah mahluk yang fenomenal. Kaum perempuan dijadikan sebagai objek untuk konsumsi publik yang menjanjikan dan menggiurkan. Berbagai sisi dari diri perempuan akan diungkap, dikupas dan dipertontonkan tanpa ampun. Implementasi-implementasi negatif akan melekat pada diri perempuan. Kontruksi budaya tidak akan sanggup lagi mempertahankan dan menyelamatkan budaya ketimuran. Figur perempuan tidak akan lepas dari sosok yang anggun, cantik, dan bersahaja. Tetapi, dibalik semua itu ada juga argumentasi yang memposisikan perempuan sebagai sosok yang merusak dan mengerikan.
Pada era teknologi sekarang ini, perempuan masih dijadikan ikon untuk menarik perhatian konsumen. Berbagai produk akan menghadirkan sosok seorang perempuan. Sosok perempuan akan menjadi ampuh untuk menawarkan produk-produk tertentu. Upaya menjadikan perempuan sebagai objek untuk konsumsi tersebut berkebalikan dengan perjuangan perempuan dalam dunia politik. Beberapa tahun belakangan ada perombakan perpolitikan di Indonesia. Kaum perempuan diberikan jatah 30 persen di dalam lembaga perwakilan rakyat.
Konsep perempuan di dalam masyarakat Jawa adalah perempuan sebagai kanca wingking. Artinya, perempuan yang mengurusi segala sesuatu yang ada didalam keluarga dari suami, anak, mengurus rumah, dan lain-lain. Ketragisan sebuah keluarga mungkin akan terjadi. Seorang perempuan yang diharapkan bisa mengawasi, mengurus keluarga akan sibuk dengan dunia perpolitikan. Itu sudah menjadi konsekuensi.
Kebudayaan Jawa juga memandang istri (kaum perempuan) sebagai orang yang selalu menuruti kemauan suami (kaum laki-laki) yaitu macak, manak, masak. Macak dalam arti berdandan dengan tujuan menyenangkan suami, masak mengolah makanan untuk keluarga, manak artinya melahirkan untuk meneruskan keturunan keluarga. Tetapi, sekarang berbeda kaum perempuan lebih dari itu sudah ada kesejajaran antara perempuan dengan laki-laki. Sekarang ini kaum perempuan tidak hanya sekedar macak, manak, dan masak tetapi bisa mencari uang untuk keluarga. Sebenarnya perempuan bekerja hanya membantu masalah ekonomi keluarga itupun hanya sebagai sampingan. Ada keterbalikan untuk saat ini keluarga sebagai sampingan dan pekerjaan yang menjadi utama.
Perempuan dan kekuasaan memang lekat sekali hubungannya. Ada simbiosis mutualisme di antara keduanya. Perempuan dijadikan sebagai mediasi atau alat untuk mencapai sebuah tujuan. Berbagai studi kasus telah terbukti keterlibatan perempuan didalam kekuasaan. Apakah ada yang salah dengan perempuan?.
Bila kita mengenal dunia pewayangan ada salah satu petikan dalam lakon yang terkenal yakni perang Baratayuda yang mengisahkan seorang perempuan dijadikan sebagai taruhan untuk melepaskan cambuk kekuasaan. Ada dua trah (keturunan) dari Pandu, yaitu Pandawa dan Kurawa. Mereka berdua berebut kekuasaan untuk memimpin suatu wilayah. Permainan dadu yang menjadi pilihan untuk merebutkan kekuasaan. Karena pihak pandawa kalah dan kehabisan bekal akhirnya pihak pandawa mempertaruhkan seorang perempuan yang bernama Dewi Kunti.
Perempuan adalah seorang perempuan. Bagaimanapun juga kita dilahirkan dari seorang rahim perempuan. Sampai kapan pun nasib perempuan akan menjadi perbincangan yang hangat, menarik dan menjanjikan. Kaum laki-laki sepertinya terus berharap agar tidak kehilangan kekuasan atas perempuan. Jika demikiran, maka masalah perempuan masih akan terus jadi polemik.
Profil Penulis
Rohadi Budi Widyatmoko adalah mahasiswa di jurusan Sastra Daerah, FSSR, Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta dan aktif di Komunitas Cething Ombo. Nomor telepon 0856 473 53 138. Alamat penulis di Tegalrayung No.485 RT 13/ RW 04 , Pelem, Simo, Boyolali.
Sejak berabad-abad yang lalu kaum perempuan menjadi polemik yang berkepanjangan. Kaum perempuan selalu menjadi pembicaraan yang menarik bagi kaum intelektual, kaum politikus, atau para sastrawan. Kaum perempuan sebenarnya menjadi sebuah simbol untuk kemajuan ideologi pemikiran. Efek-efek negatif maupun positif selalu melekat pada diri kaum perempuan. Kaum intelektual memberikan dan menciptakan teori atau faham-faham dan opini tentang kodrati para perempuan. Bagi para sastrawan, perempuan dijadikan menjadikan sumber inspirasi yang menakjubkan. Kaum politikus memitoskan kaum perempuan untuk memperkuat kedudukan harta dan tahta.
Perempuan adalah mahluk yang fenomenal. Kaum perempuan dijadikan sebagai objek untuk konsumsi publik yang menjanjikan dan menggiurkan. Berbagai sisi dari diri perempuan akan diungkap, dikupas dan dipertontonkan tanpa ampun. Implementasi-implementasi negatif akan melekat pada diri perempuan. Kontruksi budaya tidak akan sanggup lagi mempertahankan dan menyelamatkan budaya ketimuran. Figur perempuan tidak akan lepas dari sosok yang anggun, cantik, dan bersahaja. Tetapi, dibalik semua itu ada juga argumentasi yang memposisikan perempuan sebagai sosok yang merusak dan mengerikan.
Pada era teknologi sekarang ini, perempuan masih dijadikan ikon untuk menarik perhatian konsumen. Berbagai produk akan menghadirkan sosok seorang perempuan. Sosok perempuan akan menjadi ampuh untuk menawarkan produk-produk tertentu. Upaya menjadikan perempuan sebagai objek untuk konsumsi tersebut berkebalikan dengan perjuangan perempuan dalam dunia politik. Beberapa tahun belakangan ada perombakan perpolitikan di Indonesia. Kaum perempuan diberikan jatah 30 persen di dalam lembaga perwakilan rakyat.
Konsep perempuan di dalam masyarakat Jawa adalah perempuan sebagai kanca wingking. Artinya, perempuan yang mengurusi segala sesuatu yang ada didalam keluarga dari suami, anak, mengurus rumah, dan lain-lain. Ketragisan sebuah keluarga mungkin akan terjadi. Seorang perempuan yang diharapkan bisa mengawasi, mengurus keluarga akan sibuk dengan dunia perpolitikan. Itu sudah menjadi konsekuensi.
Kebudayaan Jawa juga memandang istri (kaum perempuan) sebagai orang yang selalu menuruti kemauan suami (kaum laki-laki) yaitu macak, manak, masak. Macak dalam arti berdandan dengan tujuan menyenangkan suami, masak mengolah makanan untuk keluarga, manak artinya melahirkan untuk meneruskan keturunan keluarga. Tetapi, sekarang berbeda kaum perempuan lebih dari itu sudah ada kesejajaran antara perempuan dengan laki-laki. Sekarang ini kaum perempuan tidak hanya sekedar macak, manak, dan masak tetapi bisa mencari uang untuk keluarga. Sebenarnya perempuan bekerja hanya membantu masalah ekonomi keluarga itupun hanya sebagai sampingan. Ada keterbalikan untuk saat ini keluarga sebagai sampingan dan pekerjaan yang menjadi utama.
Perempuan dan kekuasaan memang lekat sekali hubungannya. Ada simbiosis mutualisme di antara keduanya. Perempuan dijadikan sebagai mediasi atau alat untuk mencapai sebuah tujuan. Berbagai studi kasus telah terbukti keterlibatan perempuan didalam kekuasaan. Apakah ada yang salah dengan perempuan?.
Bila kita mengenal dunia pewayangan ada salah satu petikan dalam lakon yang terkenal yakni perang Baratayuda yang mengisahkan seorang perempuan dijadikan sebagai taruhan untuk melepaskan cambuk kekuasaan. Ada dua trah (keturunan) dari Pandu, yaitu Pandawa dan Kurawa. Mereka berdua berebut kekuasaan untuk memimpin suatu wilayah. Permainan dadu yang menjadi pilihan untuk merebutkan kekuasaan. Karena pihak pandawa kalah dan kehabisan bekal akhirnya pihak pandawa mempertaruhkan seorang perempuan yang bernama Dewi Kunti.
Perempuan adalah seorang perempuan. Bagaimanapun juga kita dilahirkan dari seorang rahim perempuan. Sampai kapan pun nasib perempuan akan menjadi perbincangan yang hangat, menarik dan menjanjikan. Kaum laki-laki sepertinya terus berharap agar tidak kehilangan kekuasan atas perempuan. Jika demikiran, maka masalah perempuan masih akan terus jadi polemik.
Profil Penulis
Rohadi Budi Widyatmoko adalah mahasiswa di jurusan Sastra Daerah, FSSR, Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta dan aktif di Komunitas Cething Ombo. Nomor telepon 0856 473 53 138. Alamat penulis di Tegalrayung No.485 RT 13/ RW 04 , Pelem, Simo, Boyolali.
PEREMPUAN DAN PASAR
Oleh : Rohadi Budi Widyatmoko
Pasar, itulah kata-kata yang identik dengan kegiatan kaum perempuan. Berbagai kegiatan yang menyangkut perempuan ada di situ. Ada jual beli, tawar menawar, bahkan pembicaraan dari hal-hal kecil atau gossip hingga pembicaraan yang ruwet. Perempuan adalah pelaku perputaran (siklus) perekonomian dalam pasar tradisional. Memang, untuk sekarang ini pasar-pasar tradisional terutama di kota besar hampir punah, diganti dengan pasar modern yang lebih menawarkan beragam fasilitas yang serba mewah.
Perempuan-perempuan jawa banyak yang bekerja dalam sektor pasar tradisional. Perempuan Jawa sejak dulu dikenal sangat pintar melakukan perdagangan. Selain itu mereka tidak terlalu memikirkan laba yang akan diperoleh tetapi kekeluargaan yang diutamakan. Ada pepatah Jawa mengatakan bahwa tuna satak bathi sanak, itu yang selalu menjadi prinsip atau yang dipegang oleh orang Jawa. Artinya, mereka rela rugi dalam bentuk materi tetapi mereka akan merasa lebih diuntungkan jika mempunyai banyak keluarga (saudara). Itulah keunikan masyarakat Jawa. Dari kacamata mereka, materi itu hanya sebagai titipan dan sudah diatur oleh Tuhan. Mereka tidak terlalu pusing untuk memikirkan itu.
Pasar tradisional mengajarkan kita akan kodrat perdagangan. Ada penjual dan ada pembeli. Ada harga yang disepakati oleh kedua belah pihak. Coba kita lihat pasar modern, swalayan misalnya kita tinggal memilih barang yang kita inginkan tidak perlu ada tawar menawar soal harga, setuju atau tidak setuju itulah harga yang mereka berikan kepada pembeli. Hal itu berbeda dengan konsep masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi etika dalam kegiatan ekonomi, apalagi bagi kaum perempuan itu sangat diperlukan.
Pada saat ini tampak ada gerakan bahwa pasar modern sebagai kiblat gaya hidup (prestise), terutama bagi kaum perempuan. Mereka akan pergi ke pasar swalayan atau mall bukan hanya sekedar berbelanja, tetapi juga untuk pamer diri, mencuci mata, dan refresing. Memang, pasar modern menawarkan konsep-konsep gayan hidup modern yang menggoda. Dari segi arsitektur, fasilitas, barang dagangan. letak yang strategis, dan pelayan toko yang enak dipandang mata., membuat pengunjung dan pembeli terpikat Berbeda dengan pasar tradisional, tempatnya biasanya kumuh, berdesak-desakan, fasilitas kurang memadai.
Pasar dan perempuan adalah satu kesatuan. Bagi perempuan, pasar merupakan tempat yang membantu kelangsungan hidup keluarga. Berbagai kebutuhan primer dan sekunder akan terpenuhi oleh pasar. Perempuan-perempuan Jawa menganggap pasar sebagai tempat belajar dan menikmati hidup. Aktivitas di pasar adalah cerminan keteguhan kaum perempuan untuk hidup. Mereka akan melakukan transaksi tawar menawar dengan keakraban seperti saudara sendiri, tentunya ada percakapan kecil atau pertanyaan sekitar identitas, kabar keluarga, alamat, pekerjaan, dan lain-lain. Suasana akan menjadi cair akhirnya ada kepuasan tersendiri antara penjual dengan pembeli. Ada Prinsip-prinsip ekonomi yang diterapkan di dalam hidup kaum perempuan, walaupun tidak sepenuhnya dilaksanakan dengan baik.
Pasar, itulah kata-kata yang identik dengan kegiatan kaum perempuan. Berbagai kegiatan yang menyangkut perempuan ada di situ. Ada jual beli, tawar menawar, bahkan pembicaraan dari hal-hal kecil atau gossip hingga pembicaraan yang ruwet. Perempuan adalah pelaku perputaran (siklus) perekonomian dalam pasar tradisional. Memang, untuk sekarang ini pasar-pasar tradisional terutama di kota besar hampir punah, diganti dengan pasar modern yang lebih menawarkan beragam fasilitas yang serba mewah.
Perempuan-perempuan jawa banyak yang bekerja dalam sektor pasar tradisional. Perempuan Jawa sejak dulu dikenal sangat pintar melakukan perdagangan. Selain itu mereka tidak terlalu memikirkan laba yang akan diperoleh tetapi kekeluargaan yang diutamakan. Ada pepatah Jawa mengatakan bahwa tuna satak bathi sanak, itu yang selalu menjadi prinsip atau yang dipegang oleh orang Jawa. Artinya, mereka rela rugi dalam bentuk materi tetapi mereka akan merasa lebih diuntungkan jika mempunyai banyak keluarga (saudara). Itulah keunikan masyarakat Jawa. Dari kacamata mereka, materi itu hanya sebagai titipan dan sudah diatur oleh Tuhan. Mereka tidak terlalu pusing untuk memikirkan itu.
Pasar tradisional mengajarkan kita akan kodrat perdagangan. Ada penjual dan ada pembeli. Ada harga yang disepakati oleh kedua belah pihak. Coba kita lihat pasar modern, swalayan misalnya kita tinggal memilih barang yang kita inginkan tidak perlu ada tawar menawar soal harga, setuju atau tidak setuju itulah harga yang mereka berikan kepada pembeli. Hal itu berbeda dengan konsep masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi etika dalam kegiatan ekonomi, apalagi bagi kaum perempuan itu sangat diperlukan.
Pada saat ini tampak ada gerakan bahwa pasar modern sebagai kiblat gaya hidup (prestise), terutama bagi kaum perempuan. Mereka akan pergi ke pasar swalayan atau mall bukan hanya sekedar berbelanja, tetapi juga untuk pamer diri, mencuci mata, dan refresing. Memang, pasar modern menawarkan konsep-konsep gayan hidup modern yang menggoda. Dari segi arsitektur, fasilitas, barang dagangan. letak yang strategis, dan pelayan toko yang enak dipandang mata., membuat pengunjung dan pembeli terpikat Berbeda dengan pasar tradisional, tempatnya biasanya kumuh, berdesak-desakan, fasilitas kurang memadai.
Pasar dan perempuan adalah satu kesatuan. Bagi perempuan, pasar merupakan tempat yang membantu kelangsungan hidup keluarga. Berbagai kebutuhan primer dan sekunder akan terpenuhi oleh pasar. Perempuan-perempuan Jawa menganggap pasar sebagai tempat belajar dan menikmati hidup. Aktivitas di pasar adalah cerminan keteguhan kaum perempuan untuk hidup. Mereka akan melakukan transaksi tawar menawar dengan keakraban seperti saudara sendiri, tentunya ada percakapan kecil atau pertanyaan sekitar identitas, kabar keluarga, alamat, pekerjaan, dan lain-lain. Suasana akan menjadi cair akhirnya ada kepuasan tersendiri antara penjual dengan pembeli. Ada Prinsip-prinsip ekonomi yang diterapkan di dalam hidup kaum perempuan, walaupun tidak sepenuhnya dilaksanakan dengan baik.
Friday, August 21, 2009
Marhaban Yaa Ramadhan

Marhaban yaa Ramadhan...Marhaban Syahru Syiam...semoga Allah memberi kita semua kesucian lahir dan batin....Amiiin
Subscribe to:
Posts (Atom)