Monday, November 30, 2009

Sekilas Tentang Persis Solo


Persis Solo (Persatuan Sepakbola Indonesia Solo) adalah klub sepak bola asal solo, yang didirikan pada tahun 1923. Persis pernah menjuarai kompetisi perserikatan sebanyak 7 kali, tapi keyajaan itu berlangsung pada akhir tahun 1940an. Persis Solo memiliki julukan "Laskar Sambernyawa" dan memiliki suporter dengan sebutan "Laskar Pasopati" Pasukan Suporter Solo Sejati.
Ketua Umum Persis 2006 adalah FX Hadi Rudyatmo atau akrab disapa Rudy. Manajer: Sumartono Hadinoto, dibantu empat asisten manajer dan Sekretaris Manajer Abraham EWT.
Gelar Kompetisi Perserikatan yang pernah di raih Persis Solo
Perserikatan

* 1935 - Juara, menang atas PPVIM Jatinegara Jakarta
* 1936 - Juara, menang atas Persib Bandung
* 1937 - Runner-up, kalah dari Persib Bandung
* 1939 - Juara, menang atas PSIM Yogyakarta
* 1940 - Juara, menang atas PSIM Yogyakarta
* 1942 - Juara, menang atas Persebaya Surabaya
* 1943 - Juara, menang atas PSIM Yogyakarta
* 1948 - Juara, menang atas PSIM Yogyakarta

Daftar Pemain (nomor punggung) Persis Solo 2009-2010:

Kiper: Didik Tri Yulianto (22), Mota Aditya (1), Johan Setiawan (26), Dian Rompi (21)
Pemain Belakang : Haryadi (23), Hendro Bawono (16), Prasetyo Danu Nugroho (4), Tommy Aditya (8), Vilol Febrianto (3), Achdiat Pendjawi (11), Novi Khumaidi (2), Ilham Ngadiyoso (7), Andry S (25).
Gelandang : Anggit Wibowo (24), Lintang Tri Saputro (27), Erik Maulana (13), Setyawan (20), Taufik Muchtar (16), Haryanto “Tommy” Prasetyo (5), Budi Aryanto (8).
Penyerang : Yanuar Ruspuspito (19), Taufik Permadi (10), Aditya Bara (9), Nova Zaenal (77), Fery Anto (17), Ricky (14).

Saturday, November 28, 2009

NIAT DAN OPTIMIS

Setiap selesai membaca buku-buku tentang menulis, saya sering merasa optimis dan pesimis. Optimis karena mendapatkan solusi untuk menulis, tapi juga pesimis karena susah mencari alasan untuk segera menulis. Campuran rasa optimis dan pesimis biasanya jadi mimpi di siang hari, mimpi indah namun sesaat.
Bagaimana cara menumbuhkan rasa optimis untuk menulis? Arswendo Atmowiloto sering mengompori orang dengan istilah “mengarang itu gampang”. Gampang menurut siapa? Saya selalu mencoba untuk menjadi orang yang bisa menulis dengan alasan “mengarang itu gampang”.
Saya mulai menulis geguritan dan cerkak (cerita cekak). Beberapa tulisan sudah jadi, entah baik atau jelek. Rasa optimis tiba-tiba pupus oleh pertanyaan mengenai tulisan itu mau dikirim ke mana, untuk siapa, dan untuk apa. Saya sadar bahwa media massa cetak yang memiliki ruang sastra Jawa hanya sedikit dan kurang mendapatkan perhatian dari pembaca.
Saya mulai mengirim tulisan ke sebuah koran lokal. Tulisan tak ada yang dimuat. Saya mulai putus asa. Karya sastra Jawa memang sudah tidak laku atau ketinggalan jaman. Sastra Jawa kehilangan pembaca. Masyarakat dan pemerintah sudah tidak peduli dengan sastra Jawa. Saya sering terbawa emosi sehingga terkadang percaya dengan pendapat-pendapat tersebut.
Perubahan terjadi ketika saya bertemu kritikus sastra, Bandung Mawardi, dalam acara Sekolah Menulis Fiksi di Solo. Beberapa keluhan dari saya didengarkan dengan senyum seperti mengejek atau iba. Bandung memberi tanggapan yang simpati, bahwa untuk menumbuhkan rasa optimis dalam menulis seseorang harus memiliki niat. Niat menulis tersebut diucapkan dalam hati, dilisankan dengan mulut, kemudian dibuktikan dengan tindakan. Saya menganggap itu khotbah murahan tapi memang penting.
Bagaimana cara menjaga rasa optimis dalam menulis? Bandung dengan enteng menjawab bahwa optimis itu dijaga dengan menulis. Jadi, menjaga rasa optimis menulis dengan menulis? Jawaban tersebut mengingatkan saya pada Suparto Broto, pengarang sastra Indonesia dan sastra Jawa, dalam seminar sastra Jawa di Taman Budaya Jawa Tengah. Suparto Broto mengatakan bahwa menulis harus dengan optimis.
Optimis yang dimaksudkan Suparto Broto yaitu menulis dan tulisan penting untuk hidup manusia. Nilai penting itu harus diciptakan, tidak harus menunggu orang lain atau redaktur koran yang mengapresiasi atau memuat tulisan. Suparto Broto mencontohkan bahwa dirinya sadar jarang penerbit mau menerbitkan karya-karya sastra Jawa. Hal itu membuat Suparto Broto berani membiayai sendiri untuk menerbitkan buku agar optimisme menulis terus terjaga.

KEMBANG SERUNI


Judul Buku : KEMBANG SERUNI
Penulis : Denny Novita
Cetakan : I, November 2009
Penerbit LKiS Yogyakarta

“Kisah cinta rahasia Dyah Ayu Pitaloka dengan Gajahmada yang terjadi pada zaman Majapahit di permulaan abad ke-13 adalah legenda yang lahir dari imajinasi masyarakat seputar tragedi peristiwa Bubat yang menyimpan banyak misteri. Kisah itu berbeda sama sekali dengan kisah percintaan Seruni Anggraini dengan Gading Aryaputra yang hidup pada era Milenium kedua abad ke-21. Namun, Denny Novita dengan imajinasinya melontarkan kisah cinta terlarang Dyah Ayu Pitaloka dengan Gajahmada yang legendaris itu ke panggung kehidupan modern dalam wujud percintaan aneh Seruni Anggraini dan Gading Aryaputra yang aneh. Melalui pengalaman psikologis yang aneh, Seruni Anggraini yang merasa bahwa di dalam dirinya tersembunyi jiwa Dyah Ayu Pitaloka memiliki sikap mendua terhadap Gading Aryaputra, orang yang diam-diam dicintainya. Seruni Anggraini seolah terombang-ambing antara cinta dan benci tanpa alasan kepada Gading Aryaputra sebagaimana perasaan Dyah Ayu Pitaloka terhadap Gajahmada – laki-laki gagah yang dibenci, tetapi diam-diam dicintainya. Pergulatan jiwa Seruni Anggraini dalam menghadapi Gading Aryaputra yang seolah menyiratkan pergulatan jiwa Dyah Ayu Pitaloka dalam menghadapi Gajahmada, mengungkapkan gambaran paling dalam dari sebuah kisah cinta dua anak manusia yang aneh, tetapi sangat manusiawi. Dengan pemaparan yang mengalir, bahasa yang indah dan kaya imajinasi, Denny Novita mampu membawa kita ke dalam relung-relung imajinasi yang menakjubkan. Novel Kembang Seruni, sangat mengagumkan!”
- Agus Sunyoto, novelis buku best seller Serial “Suluk Syaikh Siti Jenar”.

Memakai setting sejarah yang cukup terkenal semacam Perang Bubat, bukannya tanpa resiko. Sejarah itu nyaris sudah diketahui ujungnya. Karena itulah, alur novel sejarah mesti bertarung dengan alur sejarah itu sendiri. Bila tak berhasil, ia tak memiliki tegangan kisah dan hanya sekadar afirmasi atau penceritaan ulang. Karena itu, novel ini menjadi menarik, karena ia mengambil kisahnya sendiri. Di sana kita merasakan gugatan sekaligus upaya penafsiran sejarah.
- Agus Noor, prosais.

Novel ini berkisah tentang pergolakan yang berkecamuk dalam ranah hati… Perasaan yang tak mampu terungkapkan…. Bahkan untuk sebuah kata yang tak sempat terucap. Seperti sebuah fakta yang tak kunjung terungkap, yang tercecer jauh didalam hati dan tertumpuk oleh berbagai persoalan-persoalan yang muncul silih berganti.
Denny Novita berupaya mengangkat sisi lain (Rasa) yang tercecer dari sebuah drama sejarah masa silam. Rasa yang tak pernah mati ataupun berubah, meski cerita itu di setting ulang menjadi drama masa kini. (……. reinkarnasi).
Denny Novita menggabungkan unsur-unsur Intrinsik dan Ekstrinsik dari sebuah peristiwa besar di Nusantara dengan rasa Cinta. Cinta terhadap sebuah keutuhan sejati. Cinta terhadap Nusantara …Cinta terhadap kelanggengan persaudaraan Bangsa Indonesia………..
Genk Kobra memahami Novel ini sebagai sebuah Wacana baru diantara berbagai wacana yang telah mendahuluinya tentang sisi perang Bubat. Toh semua hanyalah wacana. Namun setidaknya, Novel ini bisa menambah wawasan kita dan mengajari kita untuk tambah bijak dalam bersikap. Untuk mencapai Marem Siji-Marem Kabeh… Balance & Beyond.
Novel Kembang Seruni dan lagu-lagu Genk Kobra dalam album Kembang Lambe Nusantara. secara kebetulan dan tanpa kesengajaan sama sekali bertemu dalam sebuah stasiun kecil di sebuah desa. Sama-sama menunggu kereta api Argo Indonesia yang akan mengangkutnya menuju Stasiun Megapolitan.
Mari bergandeng tangan… berbagi ruang dan saling menjaga….
Bercerita dan Bernyanyi…
Sebuah langkah Merajut Nusantara
(HOLAYATE)
- Je. Elysanto, adipati Genk Kobra

Monday, November 23, 2009

MENAFSIRKAN PEREMPUAN DALAM WAYANG



Wayang merupakan seni adi luhung yang masih eksis sampai saat ini. Wayang sepertinya telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Jawa. Faktanya, pertunjukan wayang sering dilakukan di mana saja dan kapan saja, serta dalam acara apa saja. Wayang sejak dulu kala dianggap sebagai cerminan hidup, berupa ajaran-ajaran hidup yang meliputi etika, politik, pendidikan, dan lain-lain dalam bentuk simbol. Oleh sebab itu, wayang merupakan sumber pengetahuan hidup yang tidak gampang dipahami secara menyeluruh karena sifatnya yang simbolis. Barangkali karena sifat simbolis itulah yang membuat wayang awet sepanjang masa.
Menurut Franz Magnis-Suseno, dalam buku Etika Jawa (1998), dikatakan bahwa orang Jawa memakai wayang sebagai cara untuk memahami makna hidup. Cara paling mendasar adalah membuat identifikasi diri terhadap tokoh-tokoh tertentu, entah dewa, ksatria, raja, brahmana, raksasa, punakawan, dan lain-lain. Selanjutnya, Franz Magnis-Suseno dalam buku Wayang dan Panggilan Manusia (1995) mengatakan, belajar memahami makna hidup melalui wayang tidak mungkin lepas dari paradoks. Maksudnya, kebaikan dan keburukan manusia itu relatif dan hanya memiliki perbedaan tipis. Ajaran moral dalam wayang tergantung pada relativitas norma-norma umum dengan maksud mengembangkan toleransi dan mawas diri.
Cerita-cerita wayang yang diambil dari epos Ramayana dan Mahabarata mengandung banyak sekali sumber pengetahuan dan pembelajaran bagi manusia untuk memahami makna hidup. Tokoh-tokoh pewayangan yang dikenal masyarakat biasanya tokoh dengan jenis kelamin laki-laki. Padahal, banyak tokoh-tokoh perempuan yang sebenarnya dapat dijadikan panutan ataupun cerminan hidup. Beberapa tokoh perempuan yang terkenal dalam wayang, antara lain Sinta, Kunti, Drupadi, Srikandi, Sumbadra, dan lain-lain.
Perhatian terhadap tokoh-tokoh perempuan dalam pewayangan terkadang dimunculkan dalam bermacam-macam tafsir. Dalam karya sastra Indonesia dan Jawa, tafsiran mengenai tokoh perempuan sering muncul dalam bentuk puisi dan prosa. Tafsir terebut menonjolkan beberapa unsur sesuai dengan pemahaman pengarang dan pembaca. Tafsiran yang lain bisa ditunjukan dalam media-media berbeda, misalnya film. Pada akhir-akhir ini, kita tahu ada usaha beberapa orang-orang sinema untuk mengangkat kisah-kisah wayang dalam bentuk film. Garin Nugroho mengguncang dunia perfilman di Indonesia dan dunia internasional dengan film Opera Jawa. Kemudian Garin Nugroho juga mementaskannya dalam bentuk kolaborasi teater dan film. Film terbaru lainnya, yang diangkat dari kisah wayang, adalah Drupadi yang disutradarai oleh Riri Reza, dengan penulis skenario Leila S Chudori. Dua film itu memusatkan perhatian pada tokoh dan tema yang sering dihadapi perempuan sejak dulu hingga sekarang, yakni cinta dan kekuasaan.
Perempuan dalam wayang
Tokoh-tokoh perempuan dalam pewayangan memiliki keunikan dalam sifat dan perjalanan hidup. Barangkali yang paling terkenal di masyarakat adalah cerita mengenai sosok Sinta dan Drupadi. Nama Sinta bahkan sering dipakai oleh para orang tua di Jawa untuk menamakan anaknya yang perempuan, dengan harapan memiliki sifat-sifat seperti Sinta. Pengorbanan dan kesetiaan Sinta mencerminkan kodrat kaum perempuan yang memiliki komitmen dan kepasrahan demi kebenaran, cinta, maupun keharmonisan keluarga serta alam semesta.
Masyarakat Jawa banyak yang terkesan dengan sosok Sinta. Satu sisi, Sinta adalah korban dari cinta dan kekuasaan, akan tetapi di sisi yang lain, Sinta adalah suara hati nurani manusia yang masih percaya pada kebenaran dan kebaikan. Sinta bisa saja ditafsirkan selalu menjadi pihak korban ketika diculik Rahwana dan disangsikan kesuciannya oleh Rama, suami yang sangat dicintainya. Posisi itulah, yang sering membuat kaum perempuan kritis menilai peran perempuan dalam kehidupan ini. Kaum perempuan menuntut kesejajaran gender tanpa diskriminasi, dan menggugat dominasi laki-laki yang terkadang membuat perempuan jadi korban, pihak yang dikalahkan.
Tokoh perempuan lainnya yang penting, yakni Drupadi. Tokoh ini memiliki kisah hidup yang penuh cobaan dan penderitaan, namun pada akhirnya menemukan kebahagiaan dan balasan setimpal. Bagian-bagian hidup dari Drupadi senantiasa menarik perhatian karena posisinya sebagai orang lemah dan dikorbankan. Kisah inspiratif Drupadi tersebut, diceritakan ulang oleh Apriastuti Rahayu dalam novel Drupadi (Permaisuri Pandawa yang Teguh Hati), terbit tahun 2006. Novel ini sengaja ingin menonjolkan sosok Drupadi, baik dalam judul maupun isi. Tetapi, pada kenyataannya kisah Drupadi dalam novel ini masih seperti sebagai pelengkap, belum benar-benar jadi fokus dari pengarang.
Drupadi, sejak awal, dipandang sebagai komoditi atau objek. Hal itu terbukti dengan penyelenggaraan sayembara dengan hadiah Drupadi. Pemenang berhak menjadikan Drupadi sebagai istri. Pemenang sayembara adalah Arjuna. Meskipun demikian, Drupadi tidak hanya diperistri oleh Arjuna saja, tapi Drupadi memiliki lima suami. Mereka itu adalah Pandawa. Drupadi sebenarnya terima dengan kenyataan itu, dan ingin membaktikan dirinya sebagai istri yang baik, setia, dan teguh hati. Drupadi dengan lima suami itu sering dituduh pelacur atau wanita murahan. Tapi, Drupadi memahaminya sebagai takdir.
Kenyataan pahit terulang kembali, ketika Yudhistira mewakili Pandawa bermain dadu dengan taruhan yang tak masuk akal. Yudhistira kalah berulangkali melawan Sakuni, wakil Kurawa. Harta, kerajaan, adik-adiknya, dirinya, sekalian istrinya dijadikan taruhan tapi kalah. Drupadi kembali menjadi objek, bahkan korban, sebab Yudhistira tidak meminta persetujuan, minimal memberitahukan lebih dulu bahwa dirinya jadi taruhan di dalam judi dadu. Nasib Drupadi sungguh menyedihkan. Tragisnya, di hadapan banyak orang, dirinya dipermalukan oleh Kurawa yang berusaha menelanjanginya. Beruntung, kain yang dikenakan Drupadi tak bisa lepas karena mendapatkan keajaiban dari dewa. Pada bagian cerita ini, Drupadi adalah korban. Anehnya, yang mengorbankan dirinya adalah suami yang dicintainya, yakni Yudhistira.
Penistaan dan perlakuan tak senonoh terhadap Drupadi membuat Bima marah besar, sehingga mengeluarkan sumpah untuk membunuh Dursasana sebagai penebusan dosa. Drupadi juga bersumpah tidak akan mengikat rambutnya sampai bisa dibasahi dengan darah Dursasana. Sumpah itu terkabulkan setelah tiga belas tahun lamanya. Drupadi akhirnya bisa membalas perlakuan kejam atas dirinya oleh pihak Kurawa. Tetapi yang aneh adalah Drupadi tidak memiliki keinginan besar untuk menuntut keadilan terhadap suaminya, Pandawa, yang mengorbankan dirinya. Sebab yang paling mungkin, Drupadi memegang teguh janji sebagai istri, sehingga dia pasrah dan berharap atas kebaikan dari lima suaminya.
Bercermin pada wayang
Tokoh Sinta dan Drupadi merupakan cerminan nasib kaum perempuan sejak dulu sampai sekarang. Kaum perempuan dalam kenyataan hidup sering mengalami diskriminasi, dijadikan objek, bahkan dijadikan korban demi kekuasaan ataupun harga diri laki-laki. Tokoh-tokoh perempuan dalam cerita wayang mungkin sukar untuk dirubah nasibnya, tetapi dalam kehidupan nyata kaum perempuan berhak mengubah nasib demi emansipasi dan kesetaraan gender.
Wayang adalah cerminan hidup. Segala kisah kaum perempuan yang penuh penderitaan mestinya menjadi renungan untuk menentukan sikap dan agenda perubahan. Perempuan adalah makhluk hidup yang memiliki kebebasan dan potensi tanpa harus selalu dijajah atau didominasi oleh kepentingan kaum laki-laki. Kaum perempuan sepatutnya mengambil hikmah positif dari cerita Sinta dan Drupadi. Sedangkan diskriminasi terhadap dua tokoh itu bisa memicu kesadaran kaum perempuan agar berani mengekspresikan diri untuk melawan penindasan ataupun kekerasan.
Sri Mulyono, dalam buku Wayang dan Karakter Manusia (1977), mengatakan bahwa wayang menyajikan tontonan hidup. Dalam wayang, kenyataan hidup digelar atau dipentaskan secara simbolis sebagai suatu lakon. Kita dituntut untuk menguak dan membedahnya. Jadi, untuk memahami wayang dengan berbagai macam simbolisme sangat tergantung pada alat atau pisau bedah yang kita miliki. Wayang sebenarnya dapat menyadarkan kaum perempuan untuk menunjukan eksistensi dirinya dengan semangat emansipasi atau pembebasan dari segala bentuk diskriminasi, penindasan, tindak kekerasan, pelecehan. Semoga saja.